CV.DIMAN
Ekonomi & Bisnis Global

Arah Rupiah Usai Tembus Rp 17.500 dan Koordinasi AS-Jepang Hadapi Gejolak Mata Uang

Oleh: Muhammad Iqbalul 12 Mei 2026
Ilustrasi Pergerakan Pasar Saham dan Mata Uang
Ilustrasi pergerakan indeks bursa saham dan volatilitas mata uang global. (Sumber: Unsplash)

JAKARTA — Pasar keuangan global dan domestik tengah menghadapi dinamika volatilitas yang cukup tinggi pada perdagangan pekan ini. Di dalam negeri, mata uang rupiah ditutup melemah 114 poin terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (12/5/2026), setelah sebelumnya sempat mengalami tekanan berat hingga menyentuh level Rp 17.528. Pelemahan beruntun ini terus dipantau secara ketat oleh para pelaku pasar mengingat dampaknya yang signifikan terhadap biaya impor bahan baku dan laju inflasi nasional.

Tekanan terhadap nilai tukar ternyata tidak hanya dialami oleh Indonesia. Di Asia Timur, otoritas keuangan Jepang juga terus bermanuver di tengah ketidakpastian. Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, pada hari Selasa menyatakan telah menyepakati komitmen dengan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, untuk berkoordinasi erat mengenai pergerakan pasar mata uang menyusul intervensi terbaru bank sentral Jepang guna membendung anjloknya nilai Yen.

Pertemuan para petinggi keuangan di Tokyo tersebut nyatanya tidak sekadar membahas nilai tukar, melainkan bergeser pada ketahanan rantai pasok global. Keduanya secara spesifik menyoroti ancaman keamanan siber dari perkembangan kecerdasan buatan (AI) tingkat lanjut dan kebijakan kontrol ekspor mineral penting oleh Tiongkok. Agenda strategis ini dibahas tepat menjelang rencana pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping.

Di sisi komoditas, pasar energi justru memperlihatkan sentimen pelonggaran yang melegakan. Harga minyak mentah dan gas alam dilaporkan anjlok tajam pada pekan ini, didorong oleh tumbuhnya optimisme pasar akan potensi kesepakatan damai terkait konflik di Timur Tengah. Minyak mentah berjangka jenis Brent sempat merosot drastis hingga di bawah level $98 per barel sebelum kembali diperdagangkan stabil di kisaran $103,23 per barel. Penurunan beban biaya energi logistik ini diharapkan dapat menjadi sentimen penyeimbang di tengah gejolak tekanan mata uang di negara-negara berkembang.

Referensi Berita (Faktual):

  • Investor Daily: "Arah Rupiah Usai Tembus Rp 17.500" (Laporan Perdagangan Pasar Uang, 12 Mei 2026).
  • Kyodo News: "Japan, U.S. confirm close coordination on currency after intervention" (Laporan Internasional, 12 Mei 2026).
  • The Guardian: "Oil and gas prices fall sharply, driven by hopes of strait of Hormuz reopening" (Laporan Pasar Komoditas, Mei 2026).