Ilustrasi: Keluarga jemaah mencoba mengakses aplikasi di Kantor Kemenag Daerah namun gagal total. (Sumber: Unsplash)JAKARTA - Ambisi digitalisasi pelayanan haji tahun 2026 menghadapi ujian terberatnya pagi ini. Aplikasi Saudi Visa Bio, yang menjadi syarat mutlak penerbitan visa haji bagi jemaah seluruh dunia, dilaporkan mengalami kelumpuhan total (server crash) sejak Rabu malam hingga Kamis pagi (8/1). Kejadian ini memicu kepanikan massal di kalangan 221.000 calon jemaah haji Indonesia, terutama kelompok lansia yang tengah berburu waktu menyelesaikan rekam biometrik mandiri.
Pantauan tim redaksi di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bekasi dan Surabaya pagi ini menunjukkan pemandangan yang memprihatinkan. Ratusan jemaah, yang sebagian besar berusia di atas 65 tahun, memadati halaman kantor sejak pukul 06.00 WIB. Mereka datang membawa smartphone dengan wajah cemas, berharap petugas bisa membantu mereka menembus sistem yang macet.
Masalah utamanya seragam: Aplikasi tidak bisa dibuka, muncul pesan "Error 504 Gateway Timeout", atau gagal saat proses pemindaian 10 sidik jari. Padahal, Kemenag sebelumnya menetapkan tenggat waktu input data tahap pertama berakhir pada 10 Januari 2026, atau dua hari lagi.
"Ibu saya sudah sepuh, umurnya 72 tahun. Tangannya gemetar kalau pegang HP. Semalam kami coba rekam wajah sampai 50 kali gagal terus, aplikasinya keluar sendiri (force close). Pagi ini malah servernya mati total. Ibu saya sampai menangis takut batal berangkat tahun ini."
Pakar Telematika dari CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) menilai kejadian ini sebagai "Bottleneck Traffic" yang sudah bisa diprediksi. Tahun 2026, Arab Saudi mewajibkan penggunaan aplikasi ini secara serentak untuk jemaah dari Indonesia, Pakistan, India, dan Bangladesh dalam waktu yang bersamaan.
"Bayangkan ada 5 juta akses secara bersamaan ke satu gerbang server di Riyadh. Jika infrastruktur load balancing tidak disiapkan untuk skenario terburuk, maka kelumpuhan sistem pasti terjadi. Ini bukan masalah sinyal internet di Indonesia, tapi kapasitas server pusat di sana yang overload," ungkap analisis tersebut dalam wawancara di TV Nasional pagi ini.
Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenag RI, dalam konferensi pers mendadak pukul 10.00 WIB tadi, membenarkan adanya gangguan global tersebut. Pihaknya mengaku telah melayangkan nota protes dan permintaan perbaikan segera kepada Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi.
"Kami mohon jemaah tetap tenang. Jangan panik. Gangguan ini terjadi di seluruh dunia, bukan hanya di Indonesia. Kami sedang negosiasi agar tenggat waktu (deadline) diundur minimal 7 hari kerja," ujar Dirjen PHU.
Namun, respon ini dinilai lambat oleh Komisi VIII DPR RI. Wakil Ketua Komisi VIII mendesak Kemenag untuk memiliki "Plan B" atau skema manual bagi lansia.
"Kita sudah ingatkan sejak Rapat Dengar Pendapat bulan lalu. Jangan memaksakan teknologi full digital kepada lansia tanpa pendampingan intensif. Kalau servernya yang bermasalah, jangan jemaah yang dibuat jantungan. Kemenag harus tanggung jawab," tegas pimpinan Komisi VIII dalam rilis resminya.
Bagi Sobat DiMAN atau keluarga yang sedang mengalami kendala ini, berikut adalah arahan resmi teknis sementara dari Tim IT Haji:
Kepanikan dan stress akibat masalah administrasi bisa memicu darah tinggi dan dropnya imunitas. Padahal syarat haji 2026 adalah SEHAT.
Tenangkan pikiran, perbanyak dzikir, dan jaga stamina fisik dengan asupan herbal penenang syaraf & peningkat imun.
Solusi Tenang & Sehat Jelang Haji ➜